Dan kalau boleh saya menambahkan, penyebab lainnya adalah kurangnya
dukungan dari pemerintah kabupaten Ciamis dalam upaya mewariskan “cerita
sejarah” dari generasi ke generasi. Jangan lupa, faktor kekuasaan
menjadi penting dalam proses ini karena akan menjadi pelindung bagi live of history.
Jangan sampai ungkapan “yang lalu biarlah berlalu, jangan diungkit
kembali” diberlakukan secara paten terhadap sejarah karena justru dari
sejarahlah kita bisa belajar karena sejarah itu adalah jembatan yang
menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Bagaimana
kita bangga menjadi manusia jika kita tidak mau mempelajari sejarah
penciptaan manusia? Bagaimana kita bangga terhadap Ciamis jika kita
tidak mengetahui sejarah Galuh? Tidak mungkin pemerintah kabupaten
Ciamis menggunakan semboyan “CIAMIS MANIS MANJING DINAMIS PAKENA GAWE RAHAYU PAKEUN HEUBEUL JAYA DI BUANA” secara ujug-ujug begitu saja. Dari mana asalnya pakena gawe rahayu pakeun heubeul di buana? Ya dari sejarah Galuh! Moal ujug-ujug aya mun teu aya sajarahna, betul atau betul?
Sasieureun sabeunyeureun, semoga ada manfaatnya. Itulah yang ingin
saya sampaikan sebelum bercerita sedikit tentang sejarah Galuh dengan
folus para penguasanya. Bukan berarti sim kuring langkung apal tibatan nu apal, ieu mah mung
sekedar berbagi pengetahuan saya yang sedikit tentang sejarah Galuh.
Sepanjang yang saya ketahui mengenai sejarah Galuh, ada berbagai
pemahaman makna atas kata Galuh. Kata Galuh bisa kita temukan tidak
hanya berkaitan dengan Ciamis saja, tetapi ada banyak Galuh yang
berkaitan dengan segala hal. Berkaitan dengan tempat contohnya, Hujung
Galuh di Jawa Timur. Bagelen di Purworejo atau Begaluh di Banyumas.
Adakah kaitannya galuh-galuh tersebut dengan Galuh baheula Ciamis
kiwari? Kita bicarakan belakangan, sekarang mari kita kembali kepada
Galuh dalam perspektif sebuah kekuasaan.
Nama Galuh muncul pada abad VII sebagai nama sebuah kerajaan di ujung
timur Priangan, tepatnya di wilayah Bojong Galuh. Wilayah itu berada di
tepat di daerah pertemuan dua buah sungai, yaitu sungai Citanduy dan
Cimuntur. Bojong Galuh (sekarang Karangkamulyan) adalah pusat kekuasaan kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Ciung Wanara, leluhur penguasa Galuh Rakean Jambri yang bergelar Rahiang Sanjaya.[1]
Ia adalah putra Sanna yang dibunuh oleh saudaranya yang bernama
Purbasora. Sanjaya berhasil merebut tahta Galuh dari Purbasora. Ia
menikah dengan putri kerajaan Sunda yang berpusat di Pakwan Pajajaran,
sehingga berhak atas tahta kerajaan Sunda. Ia menyatukan Sunda ke dalam
Galuh dengan pusat pemerintahan di Bojong Galuh. Sanjaya memutuskan
bertahta di Jawa Tengah, sehingga ia menyerahkan Galuh kepada
keponakannya (Seuweu Karma), sedangkan Sunda diberikan kepada putranya
(Rahiang Tamperan). Nama Galuh tenggelam hingga akhirnya muncul kembali
pada abad XIII sebagai nama sebuah kerajaan yang berpusat di Kawali. Carita Parahyangan
menyebutkan bahwa tokoh Raja Wastu sama dengan Niskala Wastu Kancana,
yaitu putra raja Galuh yang memerintah di Kawali. Ayah Niskala Wastu
Kancana adalah Prabu Maharaja (1350-1357) yang identik dengan Pasundan
Bubat. Selain dalam Carita Parahyangan, keterangan mengenai Pasundan Bubat terdapat juga dalam kitab Pararaton dari Majapahit. Pararaton menyebutkan bahwa di sebelah barat Majapahit terdapat sebuah kerajaan yang bernama Galuh dengan rajanya bernama Prabu Maharaja.[2]
Hubungan Galuh dengan Majapahit terjadi karena adanya pinangan raja
Majapahit yang bernama Hayam Wuruk kepada putri Prabu Maharaja yang
bernama Citra Kirana Diah Pitaloka. Rencana pernikahan itu gagal karena
patih Majapahit yang bernama Gajah Mada mensyaratkan bahwa pernikahan
itu adalah tanda tunduknya Galuh kepada Majapahit. Prabu Maharaja
menolak, ia lebih memilih perang dengan Majapahit dari pada menjadi
taklukan kerajaan itu. Perang antara prajurit kedua kerajaan terjadi di
daerah yang bernama Bubat, menewaskan Prabu Maharaja dan nyaris seluruh
prajurit Galuh.[3] Hanya mangkubumi (patih) Rahyang Bunisora dan putra bungsu raja yang bernama Niskala Wastu Kancana yang selamat dan berhasil kembali ke Kawali.
Periode keemasan kerajaan Galuh dicapai pada masa pemerintahan putra
Prabu Maharaja yang bernama Niskala Wastu Kancana (1371-1475). Abad XIV,
pusat pemerintahan Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran oleh cucunya
yang bergelar Sri Baduga Maharaja Dewata Prana. Ia menikah dengan putri
penguasa kerajaan Sunda, sehingga memiliki hak atas tahta kerajaan itu.
Ia menggabungkan kerajaan Galuh ke dalam kerajaan Sunda dan memindahkan
pusat kekuasaan ke Pakuan Pajajaran. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri
berita tentang Galuh periode Kawali.
Penguasa-penguasa Kabupaten Galuh
Nama Galuh muncul kembali pada abad XVI sebagai nama sebuah kerajaan
mandiri yang berpusat di Panaekan. Bersama dengan Sumedang Larang, Galuh
menjadi penerus kerajaan Sunda yang hancur oleh Banten. Pada tahun 1595
ketika Galuh dipimpin oleh Sanghiang Cipta Permana, Mataram Islam
berhasil menanamkan pengaruh politiknya di Galuh. Pengganti Panembahan
Senapati yang bernama Sultan Agung mengangkat putra Sanghiang Cipta
Permana yang bergelar Adipati Panaekan (1618-1625) sebagai wedana Mataram di Galuh.[4]
Langkah awal Adipati Panaekan adalah memindahkan pusat pemerintahan
dari Panaekan ke Gara Tengah. Tahun 1625 ia dibunuh oleh saudara iparnya
yang bernama Adipati Kertabumi.[5]
Pembunuhan itu dipicu oleh perbedaan faham dalam menanggapi rencana
penyerangan terhadap Batavia oleh Mataram. Adipati Panekan berpendapat
lebih baik menyerang Batavia secepatnya agar kekuasaan VOC tidak semakin
berkembang. Singaperbangsa I sependapat dengan Rangga Gempol I, yaitu
menginginkan Galuh memperkuat pasukannya dahulu sebelum menyerang
Batavia. Adipati Panaekan dituduh membantu Adipati Ukur yang memberontak
kepada Mataram karena ingin melepaskan Priangan dari kekuasaan raja
Jawa.
Pengganti Adipati Panaekan adalah putranya yang bernama Adipati
Imbanagara (1625-1636). Sama seperti ayahnya, ia mati dibunuh oleh
prajurit Mataram pada tahun 1636.[6]
Kematiannya mengakibatkan terjadinya kekosongan kepala pemerintahan
kabupaten Galuh yang kemudian dimanfaatkan oleh patih Wiranangga untuk
mengangkat dirinya sebagai bupati Galuh. Ia berbuat curang dengan cara
mengganti nama calon bupati yang ditunjuk penguasa Mataram dengan
namanya. Piagam pengangkatan itu disembunyikan Wiranangga di kolong
rumahnya. Pengasuh putra Adipati Imbanagara berhasil menemukannya lalu
melaporkan kepada prajurit Mataram. Sebagai hukuman atas kecurangannya,
Wiranangga dihukum mati oleh raja Mataram.
Pengganti Adipati Imbanagara adalah putranya yang bergelar Adipati Panji Aria Jayanagara (1636-1642).[7] Ia resmi menjadi bupati Galuh pada 5 Rabi’ul Awal tahun Je
yang bertepatan dengan 6 Agustus 1636. Atas saran raja Mataram, ia
mengganti nama kabupaten Galuh menjadi kabupaten Galuh Imbanagara.
Jayanagara memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Galuh dari Gara
Tengah ke Barunay.[8]
Pada masa pemerintahannya, Galuh dikenai kebijakan reorganisasi
Priangan oleh raja Mataram. Tahun 1641 Mataram membentuk
kabupaten-kabupaten baru di sekitar Galuh, yaitu Bojong Lopang, Utama,
Kawasen, dan Banyumas.
Reorganisasi Priangan terulang kembali pada tahun 1645, yaitu ketika
Amangkurat I berkuasa di Mataram. Tetapi pada reorganisasi wilayah kali
itu, luas wilayah kabupaten Galuh tidak berubah, bahkan ketika
diserahkan kepada VOC pun relatif tetap. Mataram menyerahkan Priangan
Timur yang terdiri dari kabupaten Limbangan, Sukapura, Galuh, dan
Cirebon kepada VOC melalui perjanjian 19-20 Oktober 1677. Bupati Galuh
yang berkuasa saat itu adalah putra Jayanagara yang bergelar R.A.
Angganaya (1678-1693).[9] VOC menetapkan jumlah cacah
untuk kabupaten Galuh sebanyak 708 jiwa, Kawasen sebanyak 605 jiwa,
sedangkan Bojong Lopang sebanyak 20 jiwa dan 10 desa. Beralihnya
kekuasaan dari Mataram kepada VOC telah memberikan keuntungan, yaitu
semakin teraturnya sistem pemerintahan kabupaten.[10]
Bupati Galuh berikutnya adalah putra Angganaya yang bergelar R.A. Sutadinata (1693-1706).[11] Bertepatan dengan masa pemerintahannya, VOC memberlakukan Prianganstesel sebagai sistem ekonomi dan indirect rule
sebagai sistem pemerintahan di seluruh daerah kekuasaannya. Sutadinata
adalah bupati Galuh pertama yang diakui sebagai bupati VOC. Kabupaten
Galuh resmi diserahkan kepada VOC oleh Mataram melalui perjanjian
tanggal 5 Oktober 1705 sebagai imbalan atas jasa VOC membantu Pangeran
Puger merebut tahta Mataram dari Amangkurat III.
Pengganti Sutadinata adalah putranya yang bergelar R.A. Kusumadinata I (1706-1727).[12] Untuk mengawasi para bupati di wilayah Priangan Timur, VOC mengangkat Pangeran Aria dari Cirebon sebagai opziener.[13]
Ia mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan Galuh, yaitu
mengangkat patih Cibatu sebagai bupati Kawasen karena dianggap sebagai menak tertua dan pandai. Ia juga melebur kabupaten Utama ke dalam kabupaten Bojong Lopang.
Pengganti Kusumadinata I adalah putranya yang bergelar R.A. Kusumadinata II (1727-1751).[14]
Ia menjabat bupati dalam waktu yang singkat karena meninggal dalam usia
muda. Ia belum berkeluarga, sehingga jabatan bupati diwariskan kepada
keponakannya yang kelak bergelar R.A. Kusumadinata III. VOC tidak
mengangkat salah satu adik Kusumadinata II, yaitu Danumaya dan Danukriya
karena mereka berlainan ibu, oleh karena itu VOC memutuskan untuk
mencalonkan putra kakak perempuan Kusumadinta II.
Pemerintahan Galuh dijalankan sementara oleh 3 orang wali
Kusumadinata III yang dipimpin oleh R.T. Jagabaya. Pada masa
pemerintahannya, terjadi kericuhan besar di daerah Ciancang yang
menyebabkan daerah itu porak-poranda.[15]
Peristiwa itu dipimpin oleh Tumenggung Banyumas dan dibantu oleh
Ngabehi Dayeuh Luhur. VOC menggabungkan Ciancang ke dalam wilayah
Imbanagara dan menyerahkan pengawasannya kepada Jagabaya. Pemerintahan
Galuh diserahkan kepada Kusumadinta III (1751-1801) setelah dewasa.[16] Ia berhasil memulihkan kondisi Ciancang yang telah digabungkan ke dalam wilayah Imbanagara.[17]
Selain berhasil memulihkan kondisi wilayah Galuh yang menurun,
Kusumadinta III berhasil memperkuat kehidupan agama masyarakat Galuh.[18]
Pengganti Kusumadinata III adalah putranya yang bergelar R.A. Natadikusuma (1801-1806).[19]
Natadikusuma menjabat bupati Galuh dalam waktu yang relatif singkat. Ia
dianggap menghina pejabat Belanda yang bernama Van Bast, sehingga
dipecat dari jabatan bupati.[20]
Akibat perbuatannya itu, ia ditahan untuk beberapa waktu di Cirebon
tetapi kemudian dibebaskan dan dikembalikan ke Imbanagara. Jabatan
bupati Galuh tidak diwariskan kepada putra Natadikusuma, tetapi
diserahkan kepada bupati penyelang dari Limbangan, yaitu R.T. Surapraja
(1806-1811).[21]
Akibat perbuatan Natadikusuma, pemerintah kolonial memutuskan untuk
mengurangi wilayah kekuasaan Galuh. Banyumas dan Dayeuh Luhur
dikeluarkan dari wilayah Galuh. Kawasen, Pamotan, Pangandaran, dan
Cijulang digabungkan ke dalam wilayah kabupaten Sukapura, sedangkan
Utama dan Cibatu digabungkan ke dalam wilayah Imbanagara.[22]
Bupati Cibatu yang bernama R.T. Jayengpati Kartanagara (1811-1812)
diangkat menjadi bupati Galuh, ia dibebankan kewajiban membayar utang
kabupaten Galuh sebanyak 23.000 Rds.[23]
Jayengpati memindahkan pusat pemerintahan Galuh dari Imbanagara ke
Cibatu. Ia tidak lama menjabat karena pemerintah kolonial menggantinya
dengan R.T. Natanagara (1812) dari Cirebon. Natanagara mengusulkan
kepada pemerintah kolonial untuk memindahkan pusat pemerintahan ke
Randengan, tetapi usul itu ditolak. Natanagara dipecat karena dianggap
tidak mampu mengatasi pemberontakan yang terjadi di Nusa Kambangan.
Penggantinya adalah P. Sutawijaya (1812-1815) dari Cirebon.
Sutawijaya didampingi oleh tiga orang patih, yaitu Wiradikusuma,
Wiratmaka, dan Jayadikusuma. Pada masa pemerintahannya, daerah Dayeuh
Luhur, Madura, dan Nusa Kambangan dimasukkan ke dalam kabupaten
Banyumas. Imbanagara diserahkan kepada patih Wiradikusuma, Cibatu kepada
Jayakusuma, sedangkan Utama kepada Wiratmaka. Sutawijaya memindahkan
pusat pemerintahan dari Cibatu ke Burung Diuk untuk memudahkan
pengawasan pembangunan Dayeuh Anyar yang dipersiapkan sebagai ibu kota
kabupaten yang baru.[24]
Patih Galuh yang bernama Wiradikusuma (1815-1819) diangkat sebagai bupati Galuh menggantikan Sutawijaya yang kembali ke Cirebon.[25]
Meskipun sudah lanjut usia, pemerintah kolonial mempercayainya untuk
memimpin kabupaten Galuh. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan
Galuh dipindahkan dari Cibatu ke Ciamis.[26]
Ia mengajukan pensiun kepada pemerintah kolonial yang disetujui pada
tahun 1819. Penggantinya adalah putranya yang bergelar R.A. Adikusuma
(1819-1939).[27]
Pada masa pemerintahannya, kabupaten Kawali dan Panjalu digabungkan ke
dalam kabupaten Galuh. Untuk selanjutnya kabupaten Galuh dibagi menjadi 4
distrik, yaitu Ciamis, Kepel, Kawali, dan Panjalu.[28] Pada masa pemerintahan Adikusuma, pemerintah kolonial menggulirkan Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Komoditas tanaman perdagangan yang dikenai tanam wajib di Galuh adalah kopi, beras, tebu, dan tarum.
Pengganti Adikusuma adalah putranya yang bergelar R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886).[29]
Galuh mengalami perkembangan relatif signifikan di bawah
kepemimpinannya, terutama di bidang pendidikan dan pembangunan fisik.
Kusumadiningrat memprakarsai pembangunan beberapa saluran irigasi yang
sangat berguna bagi pertanian rakyat, yaitu bendungan Nagawangi,
Wangundireja, Cikatomas, dan Nagawiru. Ia juga memprakarsai pembangunan 3
buah pabrik minyak kelapa dan sebuah pabrik penggilingan kopi.[30]
Ia juga membangun masjid agung Galuh dan gedung-gedung perkantoran di
daerah Ciamis. Selain itu, ia juga berhasil meyakinkan pemerintah
kolonial untuk mengalihkan jalur kereta api melewati daerah kota Ciamis.
Jalur kereta itu terpaksa dibangun di atas jembatan Cirahong agar bisa
dialihkan ke kota Ciamis.
Pengganti Kusumadiningrat adalah putranya yang bernama R.A.A.
Kusumasubrata (1886-1914). Sejak kecil ia sudah dibimbing dan persiapkan
oleh ayahnya untuk menjadi penggantinya. Salah satu bentuknya adalah
memasukkan Kusumasubrata (juga saudara-saudaranya) ke sekolah formal
selain pesantren.[31] Awalnya Kusumasubrata disekolahkan di Sakola Kabupaten Sumedang yang memiliki guru bahasa Belanda bernama Warnaar.[32] Ia tidak melanjutkan sekolahnya karena sakit, lalu dibawa pulang ke Galuh dan di sekolahkan di Sakola Kabupaten Galuh. Kusumasubrata melanjutkan sekolahnya, ia didaftarkan ke Kweekschool di Bandung, tetapi tidak diterima.[33] Akhirnya ia sekolah di Hoofdenschool yang baru saja dibuka di Bandung.[34] Setelah menyelesaikan sekolahnya, ia magang di kabupaten Galuh sebagai juru tulis kabupaten.[35]
Keturunan Kusumasubrata tidak ada yang menjadi bupati Galuh. Meskipun
dekat dengan para pejabat Belanda, namun tidak membuat mereka memihak
kepada Belanda. Tidak hanya kepada pejabat Belanda saja mereka
memberontak, kepada para ayah angkatnya yang berkebangsaan Belanda pun
mereka cenderung memberontak. Putra Kusumasubrata yang bernama R. Otto
Gurnita Kusumasubrata menjadi salah satu pendiri Negara Pasundan yang
menentang Belanda.
Bupati Galuh berikutnya adalah R.A.A. Sastrawinata (1914-1936). Ia
mengganti nama kabupaten Galuh menjadi kabupaten Ciamis pada tahun 1916.
Tahun 1926 bersama-sama dengan kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Ciamis
dimasukkan ke dalam afdeeling Priangan Timur. Sastrawinata mendapat Bintang Willems Orde
karena berhasil menumpas pemberontakan komunis yang dipimpin oleh Egom,
Hasan, dan Dirja yang meletus di Ciamis. Ia juga mendapatkan
penghargaan Bintang Tanjung dan stempel singa dari pemerintah kolonial
atas jasanya membuka rawa-rawa di daerah Cisaga untuk dijadikan area
pesawahan.
- [1] Nama Sanjaya diidentikan dengan nama penguasa yang disebutkan dalam Prasasti Canggal (723). Keterangan prasasti Canggal saling melengkapi dan menunjang dengan Carita Parahyangan.
- [2]Pararaton menyebutkan bahwa Perang Bubat terjadi pada tahun 1357, sedangkan Carita Parahyangan menyebutkan bahwa Prabu Maharaja memerintah Galuh hanya 7 tahun sejak 1350. Berdasarkan dua keterangan itu, dapat disimpulkan bahwa Prabu Maharaja yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1357 sezaman dengan Hayam Wuruk dari Majapahit.
- [3] Konon Gajah Mada mendatangi rombongan Galuh yang beristirahat di daerah Bubat sebelum melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Prabu Maharaja menolak syarat yang diajukan oleh Gajah Mada karena pada awal pinangan tidak ada persyaratan apapun. Prabu Maharaja memutuskan kembali ke Kawali tetapi dicegah oleh pasukan Gajah Mada yang akhirnya menjadi peperangan. Raja dan keluarganya, para pengiring, dan pasukan Galuh gugur dalam pertempuran itu. Calon pengantin putri memutuskan bunuh diri dari pada harus menikah dengan Hayam Wuruk yang dianggap sebagai penyebab kematian seluruh rombongan Galuh.
- [4] Penguasa Galuh sejak Adipati Panaekan tercantum dalam beberapa catatan VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Adipati Panaekan adalah bupati pertama yang diangkat sebagai wedana Mataram di wilayah Mancanagara Kilen dengan anugerah 960 cacah. Tidak berlebihan jika Adipati Panaekan disebut sebagai De oudste der Wedana’s in de Wester Ommelanden van Mataram. Lihat F. de Haan, ibid, hlm. 68.
- [5] Adipati Kertabumi adalah penguasa kabupaten Bojong Lopang yang dibentuk oleh Mataram tahun 1641 sebagai kelanjutan dari penanganan pemberontakan Ukur (1630-1632). Wilayahnya meliputi Majenang, Dayeuh Luhur, Nusa Kambangan, dan daerah pantai Selatan. Sultan Agung menugasi Adipati Kertabumi untuk menjaga daerah yang paling dekat dengan Batavia, yaitu Karawang dengan Adipati Kertabumi sebagai bupatinya. Salah satu keturunannya yang bernama Sastrawinta kelak pada tahun 1914 menjadi bupati Galuh menggantikan Kusumasubrata.
- [6] Berdasarkan keterangan tradisi lisan Galuh, kematian Adipati Imbanagara disebabkan oleh kemarahan Sultan Agung yang mendapat kabar bahwa Adipati Imbanagara telah menodai wanita Galuh yang diminta oleh Sultan Agung.
- [7] Namanya adalah Yogaswara, sedangkan nama kecilnya adalah Mas Bongsar. Gelar Raden Panji Aria dianugerahkan oleh raja Mataram karena Jayanagara dianggap satu visi dengan raja Mataram.
- [8] Barunay berada sekitar 10 km di sebelah barat ibu kota kabupaten Ciamis. Nama Barunay diganti menjadi Imbanagara setelah menjadi pusat pemerintahan yang baru. Pemindahan pusat pemerintahan itu dilakukan tanggal 14 Mulud tahun He atau bertepatan dengan tanggal 12 Juni 1642 yang dijadikan sebagai hari jadi kabupaten Ciamis.
- [9] Angganaya adalah putra kedua Jayanagara, ia diangkat menjadi bupati Galuh karena kakaknya yang bernama R. Anggapraja (nama kecilnya adalah Mas Tumbal) menolak jabatan bupati yang diwariskan ayahnya karena ia tidak mau bekerja sama dengan VOC. Angganaya memiliki empat orang anak dari seorang istri, yaitu R. A. Sutadinata, R. Angganata, R. Ay. Gilang, dan R. Kartadinata.
- [10] Selain bupati, ada beberapa kepala daerah di bawahnya yaitu wedana, penghulu, dan kepala cutak. Penghasilan para pejabat pemerintahan kabupaten diatur oleh VOC melalui pembagian tanah jabatan (bengkok) dan wajib kerja (pancen).
- [11] Nama kecilnya adalah Mas Pato, ia adalah bupati Galuh pertama yang menyerahkan hasil penanaman kepada VOC. Tahun 1695, ia menyerahkan 90 pikul lada yang ditanam di daerah Kawasen (50 pikul) dan Imbanagara (40 pikul). Selain lada, ia juga menyerahkan 80 pikul tarum dan 55 pikul kapas.
- [12] Kusumadinata I memiliki nama kecil Mas Bani. Dari pernikahannya dengan dua orang istri, ia memiliki 5 orang anak, yaitu R. Ay. Candranagara, R.A. Kusumadinata II, R. Danukria, R. Danumaya, R.Ay. Sarati.
- [13] Kabupaten Karawang dan Cianjur tidak diawasi oleh opziener karena kedua kabupaten itu dianggap sebagai bagian dari Batavia. Bupati kedua kabupaten itu berada dalam pengawasan langsung para pejabat VOC. Lihat Otto van Rees, op.cit, hlm. 87.
- [14] Kusumadinata II memiliki nama kecil Mas Baswa, ia juga mendapatkan sebutan Dalem Kasep yang artinya bupati tampan.
- [15] Nama Ciancang diubah menjadi Utama setelah tiga kali berturut-turut dilanda kericuhan (nista maja utama).
- [16] Nama kecil Kusumadinata III adalah Mas Garuda, ia masih anak-anak ketika ditujuk sebagai calon pengganti Kusumadinata II.
- [17] Berkat keberhasilan Kusumadinata III memulihkan kondisi Ciancang, VOC menganugerahkan baju kebesaran dan lencana perak yang bertuliskan Vergeet Mij Niet.
- [18] Ia bersahabat dengan beberapa ulama besar dari Cirebon. Salah satu guru agamanya adalah Kyai Bagus Satariyah yang mengajarkan tarikat satariyah.
- [19] Natadikusuma memiliki nama kecil Demang Gurinda, ia dikenal sebagai bupati yang sangat dekat dengan rakyatnya dan membenci Belanda. Ia cenderung keras dalam menghadapi para pejabat Belanda. Ayahnya sempat merasa khawatir dengan sikapnya yang sering menentang kebijakan kolonial. Ia sangat melindungi rakyatnya dan tidak segan-segan melawan pejabat Belanda yang dianggap bertindak keterlaluan. Tidak heran jika pemerintah kolonial mengawasinya secara ketat karena tingkah lakunya lebih banyak memberontak dari pada patuh kepada mereka. Ia memiliki 22 orang anak dari 8 orang istri.
- [20] Edi S. Ekajati, op.cit, hlm. 81.
- [21] Sebutan bupati penyelang digunakan untuk mengidentifikasi bupati yang bukan keturunan Galuh.
- [22] Nama Galuh dipakai kembali sebagai nama kabupaten mengganti Galuh Imbanagara.
- [23] Natadikusuma dianggap tidak membayar upeti selama 4 tahun, seingga ia berhutang kepada pemerintah kolonial sebesar 200.000 real yang harus ditanggung oleh bupati berikutnya.
- [24] Dayeuh Anyar berarti kota baru, kelak dinamai Ciamis setelah pusat pemerintahan pindah ke kota itu. Nama Ciamis dianggap sebagai penghinaan Sutawijaya kepada Galuh. Dalam bahasa Cirebon, Ciamis artinya air anyir, sedangkan dalam bahasa Sunda Ciamis artinya adalah air manis. Kota Ciamis hingga sekarang tetap menjadi ibu kota kabupaten Ciamis.
- [25] Wiradikusuma mendapat gelar Raden Tumenggung dari pemerintah kolonial setelah menjabat bupati Galuh.
- [26] Kabupaten Galuh resmi menjadi bagian dari Keresidenan Cirebon berdasarkan Besluit no. 23/ 5 Januari 1819.
- [27] Pada tahun 1820, Adikusuma secara resmi mendapatkan gaji dari pemeritnah kolonial sebesar f. 500 dan bengkok seluas 100 bau.
- [28] Kabupaten Galuh dibagi ke dalam empat distrik, yaitu distrik Ciamis, Panjalu, Kawali, dan Kepel (diubah menjadi distrik Rancah). Jumlah desa mencapai 91 desa, yang kelak bertambah menjadi 238 desa pada pemerintahan Kusumadiningrat.
- [29] Kusumadiningrat yang lebih dikenal dengan sebutan Kangjeng Prebu sangat besar minatnya dalam kesenian. Beberapa kesenian rakyat seperti angklung, reog, ronggeng, calung, terbang, rudat, wayang, penca, dan berbagai macam ibing (tarian) berkembang pesat pada masa pemerintahannya. Ia bahkan menciptakan ibing baksa, yaitu ibingnyoderan atau tarian pembuka pada ibing tayub.
- [30] Salah satunya adalah pabrik minyak Olvado yang didirikan di Ciamis, sedangkan pabrik penggilingan kopi didirikan di Kawali.
- [31] Semua putra Kusumadiningrat disekolahkan di berbagai sekolah, ada yang di Sakola Kabupaten Galuh, Bandung, dan Sumedang, bahkan di Hoofdenschool.
- [32] R.A.A. Koesoemasubrata, Ti Ngongkoak doegi ka Ngoengkoeeoek, (Bandung: Mijvorking, 1926), hlm.102.
- [33] Tidak ada keterangan mengenai alasan tidak diterimanya Kusumasubrata di sekolah itu.
- [34] Sikap Kusumadiningrat mencerminkan kesadarannya dalam menghadapi dan menyikapi perkembangan serta perubahan zaman. Ia beranggapan bahwa kualitas para putranya harus ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan perubahan zaman.
- [35] Para magang harus mempelajari etiket dan gaya hidup menak serta menghayati metode. Mereka tinggal dalam lingkungan keluarga menak dan mengerjakan apa saja tanpa bayaran.
referensi: miniskripmi.blogspot.com (Yulia Sofiani)






Sareng hormat,
BalasHapusHmmmhhh .... lajengkeun Kang, cariosan sajarah Galuh dumigi ka nami Ciamis. Nu narik hate abdi mah PErang Ciancang. Tapi dina seratan Akang mah teu aya diluhur teh. Cing manawi aya bahan bahan tah. Naha urang Ciamis teh resep perang,atanapi digadabah batur atanapi aya naon dugikeun ka Perang?. LAjeng dina hiji seratan duka ti saha, DAlem Imbanagara ditunggel maastakana ku prajurit Mataraam alatana upeti parawan. Eeehhhh naha wanita Sunda teh upeti kitu?. Cik cobi Kang guar didieu malar... ulah dijadikeun hinaan teuing geuning mojang Ciamis teh.
Baktosna,
Basuki